“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan di minta pertanggung- jawabannya”. (QS: al-Isra; 36).
Media sosial marak, booming dan fenomenal mulai pada era 2000-an, dan berjuta penduduk bumi memiliki dan pengguna setia gawai sebagai alat atau sarana untuk ‘memasuki’ media online tersebut.
Banyak aplikasi tersedia didalam benda ajaib ini, diantaranya seperti WhatsApp, Facebook, LINE, Instagram, Messenger dan lain-lainnya, yang kita gunakan sebagai ruang untuk berhubungan dengan orang lain (bersosial).
Ketika kita be-media sosial atau memasuki area orang ramai (publik), berarti kita sedang ‘bersama’ orang lain atau orang banyak. Akan tetapi hakekatnya, tentu saja jangan pernah kita lupa bahwa ketika ‘bersama’ orang banyak secara online tersebut, kita tetap membawa serta kedirian, figuritas atau siapa kita pada ketika kita ‘tampil’ di WA, FB, LINE, Instagram, Massenger dan ruang publik lainnya di gawai kita ini.
Figuritas, kedirian atau siapa kita yang saya maksud dalam tulisan ini adalah kualitas iman, ibadah dan akhlak kita yang tercermin lewat sifat, sikap, dan keperibadian kita masing-masing.
Kualitas iman, Islam, dan akhlak yang bagus akan terpancar dan ‘terlihat’ lewat komen, status, postingan, aploud-an, atau cuitan yang sejuk dan membuat semua orang merasa adem dan ‘nyaman’ manakala memirsa dan membacanya.
Sebaliknya, iman, Islam dan kualitas akhlak yang kurang baik akan terwakili oleh keperibadian atau kedirian yang kasar, yang ‘ter-intip’ lewat status, komen, postingan yang menyindir, mencela, menyudutkan, nyinyir, bully, dan segala bentuk tulisan, kata-kata atau postingan yang membuat semua lubuk hati dan nurani paling dalam dari setiap manusia akan ‘menolaknya’.
Jadi kalau demikian, media sosial adalah ‘kita’, ya, kita. Bagaimana keadaan atau kondisi iman, Islam, dan akhlak kita akan terpotret dan ‘terbaca’ lewat cara dan ‘perilaku’ kita berkomunikasi di media sosial tersebut.
Oleh karena demikian maka, adalah langkah bijak, arif dan tepat kalau kita semestinya harus berupaya berhati-hati dalam ber-komen, ber-status, berposting apa saja di media yang satu ini. Kenapa sedemikian berhati-hati?, karena ruang publik ini terdiri dari banyak ragam orang, yang berarti dengan demikian ada banyak orang yang menonton, menikmati dan kemudian menilai kualitas iman, Islam, dan akhlak kita yang diwakili oleh ‘sajian’ kita.
Bahwa oleh karenanya, ketika kita bermedia sosial dan kemudian kita mampu memahami bahwa media sosial adalah refresentasi kita, maka sudah barang tentu kita pastikan bahwa partisipasi kita diruang itu adalah bernilai positif.
Sekecil apapun partisipasi kita lewat komen, status, postingan, unggahan dan atau aploud-an, adalah ‘wujud’ dari siapa kita, dan itu teramat sangat berarti dalam rangka pembuktian bahwa iman, Islam dan akhlak kita berkualitas baik dihadapan Tuhan, Allah azza wa jalla, dan itu berarti pula bahwa keikutsertaan dan partisipasi kita dalam pembangunan peradaban masyarakat, bangsa dan dunia ini berharga, penuh manfaat dan penuh keberkahan..SEMOGA