“Demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah di anugerahkan kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS: al-Anfal (8): 53).
“Hai jiwa yg tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku”. (QS: al-Fajr (89): 27-30)
News yang lagi viral atau ujar urang banua Banjar lagi ‘tumbur’ di perbincangkan dijagat media adalah tentang new normal.
New normal bisa berarti tatanan hidup yang baru. Narasi new normal secara obsesif dalam konteks era pandemi corona adalah ‘serba selesai’ atau berlalunya wabah corona ini, dan keadaan dunia serta aktifitas para penghuni bumi didalamnya, kembali ke sebelum wabah terjadi.
‘Kembali’ disini yang dimaksud adalah penduduk bumi kembali bekerja dengan berbagai jenis aktivitasnya, lembaga pendidikan pesantren, madrasah, sekolah dengan seluruh jenjang kembali dibuka, dan santri, siswa serta para mahasiswa kembali belajar di pesantren, sekolah atau dikampus melalui tatap muka langsung dengan murabbi, guru atau dosen mereka, kemudian kembali juga berarti kembali perasaan menjadi tenang dan bahagia dengan ‘selesai’nya rasa panik dan takut, kemudian kembali kekebiasaan semula, yaitu jarang cuci tangan, tidak bermasker dan kembali banyak diluar rumah dalam rangka beraktivitas dan berkurang ‘bakurung’ atau tinggal di rumah terus (hehehe).
Anyway, segala sesuatu hal atau peristiwa yang terjadi terhadap alam dan kealaman serta manusia dan kemanusiaan, adalah skenario Tuhan, Allah SWT, yang memiliki ‘cerita’ nya tersendiri dan masing-masing ingin ‘memberi kabar’ kepada dunia dan kepada manusia, bahwa selalu ada hikmah, kandungan sufistik, dan pelajaran.
Ramadhan dan kemudian hari raya Iedul Fithri yang kita lalui setiap tahun, dan untuk tahun ini baru saja berlalu, adalah lembaga pendidikan atau sebuah madrasah, sekolah, atau universitas, dengan materi pelajaran yang sarat dengan nilai ketauhidan, ibadah, dan akhlakul karimah.
Selama sebulan penuh kita berenang dan menyelam di kedalaman lautan aktivitas ibadah Ramadhan, dan momentum Iedul Fithri yang hadir atau datang setelahnya, adalah ajang ‘penganugerahan’ dan pemberian kabar gembira dari Allah SWT bagi para hamba yang selesai mengikuti pendidikan tingkat tinggi Ramadhan dengan gelar muttaqien.
Well, setiap tahun Ramadhan memang memperbaharui atau menyegarkan iman, Islam, dan akhlak kita, sekaligus juga menantang apakah kita ingin, mau dan mampu menjadi orang yang muttaqien, yang merupakan cita dan obsesi paling besar seorang Muslim.
Ada sesuatu ‘cerita’ hikmah yang luar biasa bagi kita, bahwa pandemi corona melanda dunia berbarengan dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, dan kemudian hadirnya Iedul fithri 1441 H berbarengan dengan ‘tumburnya’ istilah new normal, yang kemudian menjadi perbincangan publik yang serius, bahkan di beberapa wilayah di Indonesia sudah diterapkan oleh otoritas setempat protokol new normal tersebut.
Dua momentum besar agama, yaitu Ramadhan dan Iedul Fithri, keduanya memberi pelajaran dan hikmah kepada kita di setelahnya ini, yaitu 11 bulan kedepan hingga datangnya kembali sang Ramadhan dan Iedul fithri ditahun mendatang. Sementara itu,
new normal adalah ‘selesai berjuang’ dari segala yang tidak biasa dan atau dari segala yang di anggap ‘tidak nyaman’ di era pandemi corona sebelumnya.
Bahwa ada terkandung isyarat besar bagi kita agar memaknai era pandemi corona dan kemudian era new normal tersebut dengan mengambil pelajaran di lembaga pendidikan yang bernama Ramadhan dan Iedul Fithri.
Selesai menempuh tarbiyah di detik malam dan siang Ramadhan dengan banyak beribadah, dan kemudian datangnya hari kemenangan di Iedul Fithri, maka hamba yang sudah bertaqwa akan menjadi semakin bertaqwa, dan kemudian selain itu pula, ajaran atau ibadah di bulan Ramadhan dan Iedul fithri, juga terbukti telah banyak menundukkan dan memunculkan ‘wajah-wajah baru’ yang bergelar dan berpredikat muttaqien itu.
Bahwa kemudian new normal bermakna dan dimaknai dengan pertaubatan besar warga dunia dan warga bangsa, akan perilaku dan perbuatan masing-masing di masa lalu, berupa kekhilafan atas segala perbuatan, perkataan, dan tindakan kita didalam menjalani kehidupan didunia yang hanya sementara belaka ini.
Langkah besar warga dunia dan warga bangsa selanjutnya setelah pertaubatan adalah berdoa kepada Allah SWT, dan berupaya semampunya serta sedaya upayanya,
agar segalanya dan semuanya yang terkait dengan urusan pekerjaan, serta aktivitas dan perbuatan kita masing-masing di dunia ini, benar-benar dirancang, di inisiasi, diprogram, di cita-citakan, dan diobsesikan dengan membuang sejauh-jauhnya virus hedonik dan materialistik duniawi, yang ‘berwajah’, dan ‘menampakkan dirinya’ lewat perilaku ‘sombong’ terhadap Allah SWT, serta sombong, zholim dan menista nilai-nilai manusia dan kemanusiaan.
Semua langkah besar tersebut adalah refleksi dan pengejawantahan dari kawah candradimuka Ramadhan dan Iedul Fithri yang datang setiap tahun, yang kemudian menunjuki, ‘memperingatkan’, dan memberi cahaya kepada kita di sepanjang tahun setelahnya, agar senantiasa berada dan menuju kearah cita-cita terbesar dalam menjalani kehidupan ini, yaitu ketaqwaan untuk menggapai keridhoan Tuhan, Allah SWT Yang Maha Tinggi semata…