“Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur’an, sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya.”(QS: al-Hijr;9)
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS:Thaha;123).
Judul diatas adalah tema yang saya sampaikan ketika saya berkesempatan menyampaikan
tausiyah secara virtual pada acara Khataman al-Qur’an Dan Tausiyah Agama, Dharma Wanita Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK ), UIN Antasari Banjarmasin,13 Agustus 2020/23 Dzulhijjah 1441 H.
Al-Qur’an kitabullah yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Besar Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril berabad yang silam tersebut, banyak sekali menyajikan dihadapan kita berbagai bentuk, rupa, dan cara Allah SWT memelihara kemurnian dan kemuliaannya, serta atas petunjuk Allah SWT, ia (al-Quran) akan selalu selamanya terpelihara dan menempati tempat yang sangat tinggi dan sangat terhormat dalam seluruh jiwa raga kita kaum muslimin.
Di sepanjang perjalanan dunia ini, atas petunjuk Allah SWT, selalu bermunculan upaya dan ‘keterlibatan’ kaum muslimin, baik secara berkelompok (organisasi), maupun secara pribadi-pribadi, dalam upaya ‘terlibat’ terhadap pembumian al-Qur’an sebagai refleksi seorang muslim yang beriman.
Berbagai organisasi, institusi, dan lembaga seperti pesantren yang tersebar luas di nusantara, kemudian organisasi besar seperti Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), yang menangani dan mengelola berbagai lembaga, diantaranya yang fenomenal adalah Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (LPPTKA).
Lembaga yang berada dibawah naungan BKPRMI ini, dengan didukung penuh pemerintah dan masyarakat Indonesia, telah berhasil melakukan upaya penyebaran Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) dan Taman Kanak-Kanak al-Qur’an (TKA), di seluruh pelosok di Indonesia.
Kemudian di-era 2000-an, bermunculan pula lembaga dan institusi untuk mencetak generasi yang tidak saja pandai membaca, tetapi juga menghafal al-Qur’an tersebut yaitu lembaga pendidikan Tahfidz al-Qur’an yang juga kini semakin tersebar di wilayah di Indonesia.
Fenomena yang marak di era 2000-an pula, yaitu munculnya wadah kelompok pengajian online seperti One Day one Juz (ODOC) dan One Week One Juz (OWOJ), yang anggotanya menjaring komunitas keluarga, komunitas kerja, komunitas organisasi dan komunitas-komunitas lainnya.
Kiprah organisasi, lembaga pendidikan, dan kelompok atau komunitas yang semakin menjamur tersebut, adalah bukti ‘ketelibatan’ manusia dalam batas manusia dan kemanusiaannya atas petunjuk Allah SWT terhadap pemeliharaan al-Quran.
Oya, al-Qur’an yang diturunkan ber-abad yang lalu adalah al-Qur’an yang sama dan tidak berubah hingga detik hari ini. Al-Qur’an yang dibaca kamu muslimin hari ini di Indonesia adalah al-Qur’an yang hari ini di baca oleh saudara muslim kita di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah dan dibaca oleh saudara muslim kita di Masjid Nabawi Madinah al- Munawwarah. Sama pula dengan yang di baca oleh saudara Muslim kita di Prancis, Inggris, Amerika Singapura, China dan Malaysia serta bahkan di seluruh dunia.
Hingga detik hari ini dari semenjak turunnya, tidak ada perubahan sedikitpun, tidak ada yang hilang dan tidak terjadi penambahan sehuruf- pun dari hurufnya yang indah dan agung itu.
Sekali lagi, bahwa Allah SWT yang menurunkan Kitab yang agung itu, dan atas Nama KebesaranNYA, Allah SWT pula yang memeliharanya. Sementara itu, ‘tugas’ hamba yang beriman ‘terlibat’ dan ‘melibatkan’ diri’ dalam pemeliharaan al-Qur’an dalam batas manusia dan kemanusiaannya atas petunjuk Allah SWT.
‘Hari gini gitu lo’, mana ada di keluarga muslim yang tidak memiliki al-Qur’an. Bisa jadi diantara anggota keluarga memiliki 1, atau 2 atau 3 biji al-Qur’an sekaligus. Satu full al-Qur’an berbahasa Arabnya, satunya lagi al-Qur’an dengan terjemahannya, dan satunya lagi dengan tafsirnya, atau satunya lagi beserta petunjuk membacanya, dan atau dengan cerita hikmahnya sekaligus.
Dirumah-rumah kita ia (al-Qur’an) kita taruh atau kita letakkan di tempat yang tinggi dan kita pastikan tidak ada benda apapun yang menindihnya. Diruang hati, dipikiran, diperasaan, dan juga dalam perkataan kita, kita sangat sepakat bahwa al-Qur’an sangat tinggi dan kita tinggikan.
Bentuk lain ‘keterlibatan’ sebagai hamba yang beriman adalah kita berupaya sangat banyak dan banyak sekali membacanya siang dan malam dikeseharian hidup kita. Tidak saja dalam batas membacaya yang banyak sekali, kita juga ‘beranjak’ untuk menghafal al-Qur’an tersebut di keseharian kehidupan kita.
Selain itu pula, sebagai aktualisasi muslim yang beriman, adalah mengiternalisasikan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran yang terpatri didalam al-Qur’an, tidak hanya slogan atau tulisan diatas kertas atau ucapan di mulut belaka, atau pula posting di group WA, atau unggah di Facebook dan diberbagai media lainnya, akan tetapi bagaimana ajaran yang terpatri di dalam al-Qur’an yang mengajarkan tentang ketauhidan, ibadah, dan akhlakul karimah tersebut, mengisi penuh relung hati dan kemudian menjalari menjadi jiwa, darah dan nafas bagi pikiran kita, bagi perbuatan kita, bagi ucapan kata-kalimat di mulut kita, dan bagi status, postingan, cuitan, komen, apploud-an di laman-laman media sosial kita.
Dengan demikian, apabila al-Qur’an ‘berhasil’ memasuki seluruh isi hati, dan kemudian menjalari pikiran, perbuatan, tindakan, tulisan, postingan, apploud-an, cuitan, dan atau perkataan kita, maka itu berarti kita selalu ‘bersamanya’, dan itu berarti pula bahwa kita termasuk dalam hamba-hambanya yang di berikan petunjuk besar oleh Allah SWT, untuk turut serta ‘terlibat’ dan ‘melibatkan’ diri dalam rangka ‘pemeliharannya’. Wallahu a’lam