Hidup ini belajar dan terus belajar. Belajar berbagai hal, tentu saja. Belajar tentang peristiwa alam dan kealaman yang terjadi, serta belajar juga tentang hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan kita.
Oya, ada yang menarik ketika kita mencermati dan kemudian ‘belajar’ dari ikan pakasam Barabai, atau yang disebut urang banua Banjar dengan iwak pakasam.
Siapa yang tidak mengenal penganan tradisional yang satu ini. Di olah dengan cara yang disebut ‘di samu’, atau ujar urang banua Banjar ‘di paja’ beberapa waktu atau berhari-hari.
Hampir semua urang Barabai bahkan warga diwilayah Kalimantan umumnya, mengenal bahkan pernah mencicipi atau memakan atau bahkan merindui jenis penganan yang mensejarah dan teramat identik dengan Barabai ini.
Sentra produksi terbesar berada di wilayah desa Mahang, Barabai dan keberadaannya paling dicari di sentra-sentra pasar tradisional di pasar Barabai. Saya sendiri ketika pulang kampung, berusaha selalu menyempatkan diri untuk mendatangi dan membeli penganan uenaq banget ini. Ada berbagai jenis atau pilihan dari iwak pakasam yaitu, iwak pakasam ‘talawas’ atau ‘di samu’ sudah beberapa hari, kemudian ada varian iwak pakasam yang disamu tiga atau empat hari atau pakasam yang disebut ‘sadang’, dan kemudian varian iwak pakasam yang ‘hanyar’ atau baru yaitu baru diolah kemaren.
Ada bermacam cara ketika memasak ikan ini, diantaranya seperti digoreng, atau di masak dengan dicampur dengan telor dan kelapa parut, dibungkus dengan daun pisang, kemudian dikukus atau di panggang diatas bara api.
Dari awal pengolahan sampai menghasilkan penganan nan enak dan diburu banyak orang, ternyata memerlukan keterampilan, waktu, dan kesabaran yang tinggi dalam prosesnya, atau tidak seperti membalik telapak tangan.
Yang ‘lawas’, yang “sadang’, dan yang ‘hanyar’, semuanya enak dan ‘mereka’ sang iwak pakasam siap memanjakan dan membuat lidah urang Barabai atau penikmatnya berdecak akan rasa khas yang tak ada duanya di dunia (hehehe), dan sang iwak juga siap berpartisipasi untuk menjadi makanan khas, dan menjadi bagian dari ragam kuliner yang dibanggakan urang Barabai dan banua Banjar.
Demikianlah, mengambil pelajaran dari iwak pakasam ini, bahwa kehidupan selalu mengandung ibroh dan pelajaran yang teramat baik untuk manusia. Dari iwak pakasam kita mengambil pelajaran bahwa hidup ini terus berproses dan terus mengalami proses nan panjang. Bahwa setiap pencapaian atau terkabulnya cita-cita dalam setiap perjalanan fase kehidupan, tidak seperti membalik telapak tangan. Ada terdapat banyak peristiwa dan kejadian, ada doa-doa panjang, ada ikhtiar, ada air mata, ada kekhawatiran, ada pertanyaan yang memerlukan jawaban, dan ada latihan tentang kesabaran.
Ketika kemudian sampai ketitik ‘selesai’ sebuah perjuangan dalam satu proses kehidupan, maka ditemukan jawaban atas doa-doa dan atas berbagai pertanyaan, ada kelegaan atas kekhawatiran ketika selama proses, dan terhapusnya air mata, sebagaimana pembuatan atau pengolahan iwak pakasam yang ‘selalu’ menemui kata ‘selesai’ setiap kali di olah untuk kemudian bersiap untuk di olah dan diolah kembali bagi memberi warna khazanah kuliner banua Banjar.
Kemudian juga, mengambil pelajaran dari pakasam yang memiliki berbagai kategori atau varian, yaitu varian talawas, varian sadang dan varian hanyar, adalah bahwa hidup dan kehidupan ini identik dengan perbedaan, dan perbedaan adalah sunnatullah dan ujian kehidupan. Perbedaan sosial, ekonomi, budaya dan politik, sampai kepada perbedaan pemikirian, arah dan cara pandang soal kehidupan, justru bukan jurang ‘fasilitas’ atau ‘media’ pertikaian, tetapi perbedaan merupakan ‘issu’ yang menjadi kekuatan dan energi untuk terus berbenah dan kontruk positif dalam rangka pembangunan diri, dan warga bangsa serta warga dunia yang damai.
Selain itu, dari bervariannya iwak pakasam tersebut kita juga mengambil pelajaran, bahwa dalam suatu bangsa, kelompok, dalam suatu komunitas, dalam suatu organsasi, atau kumpulan masyarakat manusia, ada terdapat yang berusia tua umur (senior), yang ditandai dengan banyaknya memiliki ilmu dan pengalaman kehidupan, kemudian ada yang berusia sadang atau yang sedang umur, ilmu, dan pengalaman kehidupan, dan kemudian ada yang baru, atau muda usia, yang masih minim dan ‘muda’ tentang hidup dan kehidupan.
Yang talawas (tua atau senior), mengayomi, mendorong, memberi semangat dan memberi bimbingan dan nasehat. Yang usia sadang tugasnya membela, mengutamakan, serta selalu berterimakasih kepada yang lebih senior atau tua, dan kemudian yang muda tugasnya selalu belajar dan mencontoh dengan penuh adab dan ketawadhu’an dengan yang ‘ta tuha’ dan yang usia sadang itu tadi.
Yang ta tuha dan yang sadang serta yang muda sebagaimana pakasam selalu ruhui rahayu, saling mendoakan dan mendukung serta memberi arti dan memberi manfaat satu sama lain, apapun profesi dan pada saat atau kapan atau bentuk apapun kesempatan dan ‘ruang’ yang dimiliki.
Bahwa sebagaimana pakasam yang terus dibikin atau diolah atau diproduksi untuk banua, maka karya, obsesi, dan keinginan atau cita dari manusia juga tidak pernah berhenti, doa-doa dan ikhtiar manusia juga tidak akan menemukan kata berakhir karena hidup ini terus berjalan. Selama dunia ada, maka ada banyak obsesi kebaikan yang terus dlakukan dan dikerjakan, dan beragam kebaikan itu terkumpul semuanya dan menemui kata ‘selesai’ pada kala kita menutup mata menghadapNYA untuk menggapai ‘keabadian dan kesejatian kebaiIkan’ yaitu syurga….Semoga, aamiin…
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahkan hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS: al-Baqarah; 269). “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka Tuhan mereka memasukkan mereka kedalam Rahmat-Nya (syurga). Itulah keberuntungan yang nyata (QS: al-Jatsiyah; 30)..