KATAKAN CINTA KEPADA ‘MILIK KITA’

Bukti bahwa kita beriman adalah kita cinta kepada Allah SWT,Tuhan kita. Cinta kepada Allah SWT inilah yang menjadi sumber segala cinta, yang diantaranya cinta kepada semua makhluk Allah dipermukaan bumi, dan segala, serta semua yang terkait dengan hidup dan kehidupan ini.

Kita mencintai agama kita, pasti. Kita mencintai diri sendiri, kita pun pula mencintai keluarga kita masing-masing, itu pun pasti.Kemudian porsi cinta kita berikan kepada tempat studi, (sekolah/universitas) yaitu tempat kita belajar dan menimba ilmu, serta cinta kita berikan kepada lembaga tempat kita bekerja, apapun jenis dan bentuk pekerjaan yang kita geluti. Kemudian, bahkan cinta untuk negeri kita, juga kita tunjukan dan kita persembahkan, lewat kemampuan dan kesempatan yang kita bisa.

Semua yang kita cintai tersebut adalah ‘milik kita’, ya kita sebut milik kita. Mengapa kita mencintai milik kita?, karena mencintai itu perbuatan kebaikan dan kebajikan yang merupakan ajaran dari agama, dan cinta serta mencintai adalah amal shaleh yang akan kita persembahkan ke hadirat Allah SWT kelak di hari kemudian.

Literasi cinta atau bangga, atau menghargai dengan segala ‘milik kita’ ini, sangat penting terus ditanamkan dan tertanam, ditengah tidak sedikit orang yang masih belum memiliki pemahaman mendalam, bahkan terjebak pada pemahaman yang justru hakekatnya mencabik ‘nilai’ yang terkandung dalam cinta itu sendiri.

Kenyataan masih menunjukan, bahwa cinta dan menghargai terhadap ‘milik kita’, seperti kepada sesama makhluk Allah dimuka bumi, terhadap pekerjaan, lembaga tempat mengabdi, bahkan terhadap negeri sendiri, masih terkungkung atau terpenjara oleh karena ambisi yang tiada berkesudahan, oleh perbedaan cara pandang, oleh prasangka buruk, oleh keiri-dengkian, oleh kesombongan dan kecongkakan kita. Bahkan, cinta juga terjerembab karena perbedaan pilihan politik, perbedaan latar sosial dan perbedaan adat istiadat budaya.

Sebuah ironi, padahal agama Islam jauh-jauh hari semenjak turunnya, telah mengajarkan kepada kita, bahwa cinta harus mengisi seluruh atmosfir hati, dan ia mendesak untuk dikeluarkan, ditebarkan dan dibumikan.

Cinta itu semestinya menghiasi pikiran, perbuatan dan perkataan, yang kita ejawantahkan di dalam ‘ruang’ segala dan semua apapun yang menjadi ‘milik kita’, dan pula terrefleksi lewat ketika kita mengunggah, mengapploud, mencuit dan berkomentar di ruang media sosial atau di ruang-ruang ramai.

Bahwa cinta inilah nanti yang akan bersama dan ‘menemani’ kita, ketika menghadap Tuhan Allah ajja wa zalla. Ya, cinta yang tanpa reserve terhadap apa saja yang menjadi ‘milik kita’ itu tadi dan siapa saja yang menjadi bagian didalamnya.

Oya, cinta dan bangga terhadap ‘milik kita’, tak pelak akan memanfaatkan ‘media’ dan ‘fasilitas’ paling tinggi dalam pengharapan, yaitu doa-doa terhadap sang Pemilik dan Penguasa cinta, yaitu Allah SWT, yang akan menghasilkan apresiasi dan sikap serta sifat optimistik.

Apresiasi positif dan optimistik terhadap segala proses dan pencapaian, adalah hasil nyata dari doa-doa yang menumbuh- suburkan cinta, yang di dalamnya ada terdapat dukungan, ada terdapat kemakluman akan kekurangan dan kelebihan, bahwa ada proses yang belum ‘selesai’, ada bijaksana dalam menilai ketika menyorot dan mencermati segala proses, cita-cita, obsesi dan pencapaian.

Demikianlah, bahwa cinta adalah hasil dari berdoa yang menghasilkan optimisme, sementara sebaliknya, sikap skeptis dan pesimistis, yang terurai lewat tulisan, status, cuitan, komentar, unggahan, apploud dan postingan yang mengandung sindiran, olok-olok, caci-maki, dan celaan, adalah musuh besar cinta, yang seharusnya tidak boleh ‘hadir’ di dalam hati orang-orang yang mengaku beragama, dan kemudian tidak boleh masuk, tersebar dan bersarang di ‘rumah’ atau di ‘ruang’ ‘MILIK KITA’ itu tadi. Semoga….

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban? (QS: al-Qiyamah: 36)

Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu (pengetahuan) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. (QS: al-Israa: 36)

About Siti Aisyah

Check Also

PESAN SEJATI MAULID NABI

PESAN SEJATI MAULID NABI Oleh Siti Aisyah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *