BELAJAR DAN ‘RUANG’ BELAJAR IDEAL

Belajar tentang segala yang baik dan mengandung segala kebaikan tidak ada mengenal kata berhenti. Makna belajar yang utama dan terutama adalah belajar tentang keimanan, ibadah dan akhlakul karimah. Ketiga materi tersebut wajib dipelajari karena memuat ‘perbincangan’ tentang pengagungan terhadap Kebesaran realitas Tuhan, Allah SWT. Didalam realitas Tuhan tersebut diperbincangkan tentang realitas alam dan kealaman, serta realitas manusia dan kemanusiaan sebagai karya cipta besar Tuhan. Tiga materi pelajaran tersebut harus terus dipelajari, kemudian menjadi pengetahuan, menjadi pemahaman dan dipahami, dan kemudian terejawantah dan berimplikasi positif terhadap perjalanan hidup dan kehidupan kita masing-masing selama didunia ini. Implikasi positif sebagai hasil belajar dengan materi utama keimanan, ibadah dan akhlakul karinah tersebut adalah sosok yang beriman, berilmu, dan beramal shaleh sebagai bekal menuju cita-cita besar sebagai orang beriman yaitu syurga keabadian kelak di kemudian hari.

Lembaga pendidikan atau tempat belajar sebagai ‘ruang’ yang paling ideal yang diidealisasikan Islam dalam mempelajari ketiga materi keislaman tersebut adalah lingkungan keluarga yang ta’at beragama, lingkungan masyarakat yang beragama, dan sekolah atau universitas yang religius dimana didalamnya terjadi ‘transaksi’ keilmuan yang mengintegrasikan antara keilmuan keagamaan Islam (agama), dengan ilmu dan keilmuan yang selama ini ‘terlanjur’ disebut umum. Semua materi pelajaran dan mata kuliah yang selama ini masuk dalam kategori umum tersebut, kemudian ‘diagamakan’, atau ‘diislamkan’ atau dintegrasikan atau dipelajari dengan berlandaskan dan berreferensi pada tema-tema al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, serta pemikiran emas para ulama dan filosouf masa lalu dan pemikiran jernih para ulama modern dan kontemporer sepanjang bersemangat dan bersumber dari  al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW itu sendiri. Materi pelajaran atau mata kuliah yang diagamakan, direligiuskan, atau diislamkan atau diintegrasikan tersebut akan berbanding tegak dan berbanding lurus dengan figuritas dan sosok yang dihasilkan, yaitu murid dan mahasiswa kita, serta ‘masyarakat belajar’ yang berilmu dan menguasai berbagai keilmuan, tetapi tetap mengagungkan nilai-nilai spiritualitas (beragama) yaitu beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah.

Demikianlah bahwa, hidup dan kehidupan ini teramat identik dengan terus belajar dan belajar tanpa mengenal kata berhenti yang kajian utamanya adalah tentang keagamaan dan ilmu-ilmu keislaman itu tadi. Pengetahuan dan pemahanan tentang realitas kebesaran Tuhan yang kita ‘kejar’ lewat belajar yang tidak mengenal kata berhenti tersebut, yang sesuai dengan batas manusia dan kemanusiaan kita, harus sampai ketitik spritualitas yang paling tinggi (sufistik transenden), sebab hanya dengan menempuh jalan tersebut akan ditemukanlah  ‘jawab’ atau yang paling menjawab  berbagai realitas persoalan alam dan kealaman, serta persoalan realitas manusia dan kemanusiaan serta berbagai ‘pengaduan’ anak zaman dalam rangka menuntaskan ‘kegaduhan’ serta polemik dalam menyikapi persoalan dan fenomena kehidupan yang ‘berwajah’ keragaman dan perbedaan dalam politik, sosial, budaya, suku, dan agama sepanjang masa..

About Siti Aisyah

Check Also

PESAN SEJATI MAULID NABI

PESAN SEJATI MAULID NABI Oleh Siti Aisyah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *