INDIKATOR ‘RASA’ BERSYUKUR DAN ‘RASA’ BERSABAR KITA

Nikmat Allah SWT atas kita seluruh manusia teramat sangat banyak. Nikmat Allah SWT tersebut bentuknya berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan batas kemampuan manusia menerima anugerah tersebut, dan sesuai pula dengan kedinamisan kebutuhan dan keperluan orang lain dan lingkungan terhadap kapasitas dan kredibilitas diri kita masing-masing pada masanya, pada waktunya, dan pada saatnya.

Sebagai orang yang beriman, semua nikmat dan anugerahNya tersebut tentu saja wajib kita syukuri. Kemudian selain itu setiap kita juga harus menyadari bahwa terdapat banyak sekali kekurangan yang Allah SWT taqdirkan atas setiap kita, dan kekurangan tersebut ‘menyertai’ perjalanan hidup kita masing-masing, dan kita dengan penuh rasa kesabaran menerima dan menjalaninya.

‘Membaca’ syukur adalah manakala kita mampu melihat berbagai kelebihan kita, dan kemudian ‘membaca’ sabar adalah tatkala kita mampu ‘membaca’ berbagai kekurangan kita masing-masing. Bentuk atau ‘rupa’  dari berbagai kelebihan yang dimiliki setiap manusia tidak saja kelebihan berupa harta seperti yang dipahami, yang dikalkulasi dan mendominasi pikiran manusia selama ini. Berbagai kelebihan bisa berbentuk keimanan yang semakin baik, ibadah yang semakin banyak, akhlak yang semakin mulia dan tawadhu’, serta bisa pula semakin luas hati dan pikiran untuk memberi pertolongan dalam berbagai bentuknya kepada orang lain yang membutuhkan uluran kita.

Sementara itu, berbagai bentuk kekurangan manusia bisa berwujud seperti, tidak ada peningkatan iman dan ibadah, tidak menunjukan perilaku (akhlak) kearah yang lebih baik dan terpuji, seperti dengan gampangnya bertindak zhalim, menghina, mencela, menyindir, merendahkan, serta tanpa perhitungan mengambil dan ‘memakan’ hak-hak orang lain atas nama ingin ‘kenyang’ dan terpenuhinya berbagai ambisi yang tidak berkesudahan.

Demikianlah, maka oleh karena itu, ketika terlihat, dirasakan, dan terdeteksi banyak kelebihan diri, maka pada saat yang sama kita paksakan diri untuk melihat berbagai kekurangan yang terdapat dalam diri kita masing-masing. Sebaliknya, manakal terlihat dan terdeteksi kekurangan yang terdapat didalam diri kita, maka ‘bersegera’ kita ‘menyeret’ diri untuk melihat berbagai kelebihan yang telah sangat banyak dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita. Bahwa dengan cara demikianlah sehingga tidak ada celah untuk sombong dan angkuh atau terheran-heran atau ‘mempertanyakan’, “kenapa nasib dia seperti itu ya?”, atau “kenapa orang tersebut mengalami hal itu, ya?”, tatkala terlihat kekurangan yang dimiliki  oleh orang lain tersebut. Kemudian sementara itu juga, tidak pula ada kesempatan terlintas dihati dan pikiran atau terucap dilidah, pujian yang berlebihan terhadap anugerah yang dimiliki orang lain, dan kemudian harus membuat kita minder dengan segala kekurangan diri kita. “kenapa nasib dia lebih baik dariku ya?”, atau “aduuh enaknya hidupnya, sementara aku?,ducc!”.

Come on, ini wilayah dunia saja, dimana segala sesuatunya dalam proses dan berproses menuju kata ‘puas’. Kata ‘puas’ dalam ‘rasa’ beriman dan ‘rasa’ beragama adalah bersyukur yang tanpa batas, dan bersabar tanpa mengenal titik berhenti. Bersyukur yang tanpa batas dan bersabar yang tidak mengenal titik henti,  adalah suatu petunjuk yang teramat besar, sebab tidak semua manusia tertunjuki atau mendapatkan petunjuk atau ‘jalan’ seperti itu. Mendapatkan petunjuk besar tersebut dan kemudian mampu ‘membaca’ syukur dan mampu ‘membaca’ sabar dalam menapaki perjalanan dan proses kehidupannya, itulah sesungguhnya kunci dan letak bahagia dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur atas segala kelebihan dan nikmat yang telah dianugerahkanNya, serta atas doa-doa yang telah banyak sekali dikabulkan, dan kemudian tidak akan ditemukan alasan untuk tidak bersabar atas kekurangan dan atas belum dikabulkan atau masih tertundanya doa-doa dan segala pengharapan…

About Siti Aisyah

Check Also

PESAN SEJATI MAULID NABI

PESAN SEJATI MAULID NABI Oleh Siti Aisyah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *