Hari ini terjadi peristiwa yang mengejutkan ditengah euferia merayakan ulang tahun negeri, yaitu terjadi peristiwa, yang kemudian disebut peristiwa Malang dan Surabaya,yang kemudian memunculkan ribuan masyarakat Papua turun kejalan. Tetapi beberapa jam kemudian situasi dapat semakin kondusif, Alhamdulillah, berkat Rahmat Allah SWT, kerja pemerintah, aparat dan masyarakat.
Dari peristiwa tersebut menyadarkan kita, bahwa perbedaan yang banyak ini, berpotensi rentan konflik. Betapa persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa ini harus terus dijaga sebagai solusi terbaik meredam setiap konflik tersebut. Ujian persatuan dan kesatuan apalagi ditengah perbedaan yang sangat banyak ini, akan selalu mengintai. Berawas terhadap letupan perpecahan bangsa harus terus di waspadai bersama, tentu saja.
Well, Ketika bertemu 17 Agustus setiap tahunnya, kita seluruh bangsa Indonesia memperingatinya dengan mengadakan berbagai aktivitas dan kegiatan mulai dari yang serius sampai yang terkesan santai. Apel atau upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan dilaksanakan mulai dari Istana Negara, yang inspektur upacaranya Presiden RI, sampai kepelosok daerah, baik di intansi-instansi dan lembaga milik pemerintah, maupun swasta, dipesantren dan lembaga pendidikan negeri maupun swasta, organisasi, sampai kepada komunitas-komunitas masyarakat.
Tidak saja dalam bentuk yang serius, peringatan juga digelar masyarakat dalam bentuk yang terkesan santai dan lebih lepas, tatawaan, gerr-gerran (hehehe), dan membuat kita tersenyam dan tersenyum, yaitu ketika menyaksikan festival-festival, karnaval, perlombaan-perlombaan seperti panjat pinang, makan kerupuk, lari karung, lomba fashion dengan dandanan menor, baik kategori anak-anak sampai kepada kategori emak-emak, ibuk-ibuk, acil-acil dan mpok-mpok.
Varian dan bervariasinya bentuk kegiatan perlombaan yang digelar masyarakat, seperti lari karung, makan kerupuk, naik pinang dan lain-lain tersebut, saya kira tidak ‘sederhana’ bentuknya , tetapi itu semua khas Indonesia.
Oya, ada yang menarik, yang tidak ingin saya lewatkan dicatatan saya kali ini, yaitu parade pakaian adat yang dikenakan para petinggi negara dan masyarakat saat peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara dan juga dikenakan masyarakat lainnya pada saat-saat peringatan 17 agustus diberbagai daerah di Indonesia.
Bahwa ada terdapat ‘pesan’ dibalik perlombaan17-an dan parade busana adat tersebut, yaitu bermacam dan beragam perlombaan 17-an yang semua pesertanya larut dalam kegembiraan, dan kemudian bermacam dan beragam busana adat yang dikenakan di Istana negara dan berbagai daerah, tetapi lebur bersama dalam kebahagiaan, seolah berbanding tegak dan berbanding lurus, bahwa selama ini Indonesia itu identik dengan berbeda-beda dan penuh sesak dan berjejal dengan perbedaan, tetapi tetap bersatu dan bersaudara dalam konteks negara kesatuan ini.
Saya kira, narasi pesan tersebut harus terus nyaring di suarakan, dan seharusnya lantang dipekikkan, sehingga semua kita rakyat Indonesia ketika bertemu dengan 17 Agustus, yang terbayang tidak saja membungkus diri dengan pakaian adat nan cantik dan perlombaan 17-an yang seru, tetapi yang paling penting adalah esensinya, maknanya, dan kandungannya, yaitu meski berbeda-beda, tetapi tetap harus terus bersatu dan berdamai untuk menjaga negeri tercinta ini..