BERPOLITIK YANG CHIC, ELEGANT DAN CANTIK

BERPOLITIK YANG CHIC, ELEGANT DAN CANTIK

Pertanyaan besar kita ‘hari ini’ ini adalah siapakah yang akan memenangkan kontestasi pemilihan presiden (pilpres 2019), yang tidak lama lagi akan digelar. Hari-hari masyarakat Indonesia saat ini, baik diwarung kopi, dipasar, dikantor-kantor pemerintah, perusahaan, di WA-WA Group, dimanapun dan kapanpun yang terdapat perkumpulan manusia, terjadi pembicaraan yang menarik dan semakin menarik serta semakin hangat seputar situasi politik dalam negeri kita.
Topik pembicaraan masyarakat yang paling ramai adalah siapakah presiden negeri ini diperiode mendatang?.Seru sekali bukan?. Secara terbuka saat ini kontestasi sedang berlangsung, dan kita menunggu hasil pertarungan ‘papadaan’ dan ‘kekeluargaan’ ini. Saya menyebutnya kontestasi ‘papadaan’ dan ‘kekeluargaan’, karena ini perhelatan atau ‘pesta’ seluruh keluarga besar anak bangsa lima tahunan dalam rangka memilih dan menentukan presiden periode mendatang. Seru sekali memang.
Sejatinya, ada terdapat hal dan perihal yang lebih ‘seru’ yaitu bahwa siapapun presiden kita mendatang nanti, atmosfir dan proses perpolitikan dalam melewatinya harus dalam situasi damai dan aman. Bahwa proses kontestasi politik dan berdemokrasi didalam rumah bangsa yang bernama Indonesia ini, payung dan nilainya adalah ajaran agama yang sangat dijunjung tinggi dan diagungkan, serta menjadi urat dan nadi, darah dan daging yang sangat membudaya dan berkeadaban yang tinggi selama ini. Nilai agama tersebut berbuah sangat manis yaitu harmoninya relasi sosial dan budaya, meski kita berbeda dalam banyak hal, termasuk berbeda pilihan politik. Sedemikian bersemangat, heboh dan dahsyatnya usaha dan upaya untuk menang dalam pertarungan politik ini, semangat ajaran agama dan nilai sosial budaya ‘papadaan’ dan ‘kekeluargaan’ harus terus ‘menyertai’. Kita sangat boleh dan ‘boleh sangat’ berbeda menentukan siapa presiden pilihan kita. Menghargai dan menghormati pilihan masing-masing adalah salah satu dari makna sejati berdemokrasi itu sendiri. Siapapun yang menjadi pilihan kita, hakekatnya kita menjadi ‘pemenang’ dengan pilihan kita masing-masing. Masing-masing kita menjadi ‘pemenang’ karena dalam proses berdemokrasi dalam konteks kontestasi (pertarungan) ini, kita ‘menang’ disebabkan karena kita memiliki pilihan dan kita ikut memilih, serta kita tidak mudah dipengaruhi siapapun dan apapun, kita ‘menang’ karena kita memahami betul bahwa kita boleh berbeda pilihan, bahwa kita ‘menang’ karena kita mampu menghargai pilihan politik orang lain, kita ‘menang’ karena kita mampu untuk tidak punya pikiran jelek dan kemudian ikut-ikutan menghujat, mencela -baik lewat mulut kita, atau lewat menulis, memposting, mengunggah dengan menggunakan tangan kita-pilihan orang lain yang bukan pilihan kita. Ditengah perbedaan pilihan ini, tidak ada larangan dan tidak boleh dilarang para pemilih dan pengagumnya menshare, menulis atau mengunggah tentang profil dan segala ‘atribut’ kebaikan yang melekat pada diri jagoannya, tetapi ‘catatan biru’ (blue printnya) semestinya menahan diri untuk tidak menjatuhkan dan mendiskreditkan kandidat yang bukan pilihannya. Alangkah tidak elok dan tidak chic, tidak elegant, dan tidak cantik, manakala melakukan bahkan terlampau berlebihan (explosif) membenarkan dan membela pilihan kita, hanya karena ‘dia pilihanku sih’, dan kemudian boleh-boleh saja menghujat dan mencela calon presiden yang bukan pilihan kita. Allah SWT memperingatkan kita, “Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS: al-Isra; 36), “Dan katakanlah kepada hamba-hambaku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS: al-Isra;53). Demikianlah, ruang terdalam bathin dan qalbu yang sufis senantiasa mengingatkan kita, bahwa bisakah kita dengan mudah mendatangi atau menemui kedua calon presiden tersebut untuk meminta ridho dan meminta maaf bahwa kita telah pernah mencelanya, menzhaliminya, menghujatnya, hanya atas nama kebencian karena dia bukan pilihan kita, sebelum kita nanti kelak menghadap Tuhan Allah Azza Wa jalla?. So, siapapun presiden kita mendatang nanti adalah persoalan taqdir, dan kedua kandidat sedang dan tengah menunggu dan kemudian akan menjemput taqdirNYA itu setelah doa dan ikhtiar panjang dilakukan. Dengan bersikap pasrah dan menyerahkan semua hasil ini kepada Yang Maha Paling Menentukan, apapun hasil dari doa dan ikhtiar ini, harus kita dukung dan kita terima. Siapapun yang menjadi pemenang nanti adalah tampil sebagai pemimpin terbaik bangsa. Siapapun yang menang nanti adalah kemenangan kita bersama, kemenangan anak bangsa yang bernama Indonesia.
Untuk menuju kemenangan bersama itu, mari bersama kita lewati proses kontestasi sebagai sesuatu yang normal dalam berdemokrasi. Payung proses berdemokrasi kita adalah nilai agama dan nilai budaya bangsa yang terkenal berkeadaban yang luhur dan tinggi. Sekarang ini yang menjadi agenda besar kita bersama adalah bahwa kita bisa dan kita mampu membuktikan sebagai orang yang beragama dengan baik dan berbudaya yang luhur, kita mampu bijaksana dalam berpikir, berkata, berbuat, dan bertindak dalam suasana perpolitikan negeri jelang pilpres 2019 ini. Kita bisa dan kita mampu, karena kita Abdullah (hamba Allah) yang setiap detik waktu hakekatnya diuji dan dalam ujian untuk berupaya lurus sebagai khalifah fil ardhi (pengabdi/beribadah) kepadaNya. Bentuk ibadah yang lurus sebagai khalifah di muka bumi adalah ketika kita memahami dan mampu berpikir lurus, berbuat lurus, bertindak lurus dan berkata lurus dalam menjalani segala peristiwa dan dalam segala kejadian di dunia yang hanya sementara ini..

About Siti Aisyah

Check Also

PESAN SEJATI MAULID NABI

PESAN SEJATI MAULID NABI Oleh Siti Aisyah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *