Alhamdulillah, kembali kita dipertemukan oleh Allah SWT dan berada dibulan Rajab yang mulia ini. Bulan Rajab terletak diantara bulan Jumadil (akhir) dan bulan Sya’ban yang merupakan salah satu dari empat bulan haram (suci) yaitu Dzulqo’idah, Dzulhijjah, dan Muharram. Bulan Rajab merupakan bulan ke tujuh dari dua belas bulan didalam kalender Hijriyah atau penanggalan Islam. Ada banyak terdapat ‘rasa’ ketika berjumpa dan berada dibulan Rajab ini, diantaranya adalah ‘pertanda’ semakin dekat dengan bulan puasa atau bulan Ramadhan sebagai sebuah bulan berpuasa sebulan penuh yang sangat dirindukan kaum Muslimin diseluruh dunia. Kemudian selain itu, Rajab juga sebagai sebuah peringatan untuk berbenah dan mempersiapkan diri untuk menyambut dan menjelang bulan Ramadhan tersebut dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Setiap berada dibulan Rajab, kita juga diingatkan akan sebuah peristiwa Isra’ Mi’raj, sebuah peristiwa yang menjadi catatan emas sejarah perjalanan Islam yaitu diperjalankannya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan dari Masjidil Aqsha ke Sidhratul Munthaha berabad yang silam. Setiap menemui 27 Rajab, kaum Muslimin diseluruh dunia memperingatinya sebagai peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini biasanya dilaksanakan dan diramaikan baik ditempat-tempat ibadah, dikantor-kantor, maupun dilembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah. Peringatan tersebut diadakan untuk menyegarkan ingatan dan mengkilas baliki jejak sejarah Islam yang agung, serta yang terpenting diatas semua itu adalah dalam rangka mempertebal keimanan kepada Allah SWT lewat salah satunya dalam konteks ini adalah memahami hakekat dan makna shalat dalam kehidupan dan kemudian terus memperbaharui pelaksanaan shalat kita sebagai sebuah syari’at yang paling istimewa dan paling menentukan diterima atau tidaknya ibadah-ibadah lainnya. Peristiwa Isra’ Mi’raj dan kemudian diperingati setiap tahun semestinya tidaklah dipahami sekedar peringatan atau bentuk aktivitas seremoni keagamaan belaka, tetapi yang paling penting adalah esensi dan makna serta kandungan dari peringatan tersebut, bahwa berangkat dari peringatan tersebut itulah momentum untuk terus memperbaiki dan memperbarui pelaksanaan shalat kita berupa niat, bacaan shalat dan gerakan shalat, serta semakin memahami pentingnya shalat dalam kehidupan kita sebagai seorang Muslim. Seseorang yang shalatnya semakin baik berupa niat yang semakin lurus, bacaan shalat yang semakin benar, dan gerakan shalat yang semakin betul, maka akan semakin bermakna tidak saja untuk diri sendiri tetapi juga akan bermakna untuk orang lain diluar dirinya. Pengibaratanya adalah seperti proses dalam pelaksanaan shalat tersebut, yaitu ketika ‘sukses’ pelaksanaannya lewat niat yang lurus, bacaan dan gerakan yang terus diperbaiki dan kemudian seseorang ‘larut’, damai dan bahagia bersama Allah SWT dalam shalatnya, maka ketika selesai pelaksanaan shalatnya tersebut, ‘kesuksesan’ dan kedamaian serta kebahagiaan yang diperolehnya dalam pelaksanaan shalatnya itu kemudian ‘dibagi’ kepada sesama manusia dan seluruh makhluk Allah SWT sebagai bentuk tidak egois dalam beragama yang terrefleksi lewat tidak egois dalam kesuksesan dan tidak egois dalam kebahagiaan. Tidak egois dalam kesuksesan dan tidak egois dalam kebahagiaan akan memunculkan pribadi ‘tawadlu” dihadapan Penciptanya berupa semakin tunduk, semakin patuh, semakin pasrah dengan segala aturan dan ketentuanNya, serta semakin tawadhu’ dalam bergaul dengan sesama manusia yang terrefleksi diantaranya lewat semakin banyak juga doa dan mendoakan orang lain, semakin tumbuh serta semakin hidupnya jiwa menolong terhadap ketidakberdayaan lembaga pendidikan, lembaga sosial dan kaum dhu’afa yang sangat banyak disekitar kita. Ada banyak sekali lembaga sosial dan lembaga pendidikan yang sangat memerlukan kepedulian masyarakat yang berkelebihan harta untuk mendukung tidak saja berupa bantuan untuk memperlayak bangunan fisik, tetapi juga dukungan berupa dana untuk menghargai dedikasi para guru-guru dan juga untuk terus membantu, memberi, dan membuka kesempatan belajar seluasnya kepada anak-anak generasi kita yang berasal dari kalangan keluarga yang tidak berpunya. Bentuk berbagi kebahagiaan dan kesuksesan lainnya selain membantu memberdayakan lembaga pendidikan dan lembaga sosial sebagai refleksi dari tidak egois dalam beragama adalah berupaya berbagi kepada saudara kita yang dhu’afa yang sangat banyak disekitar kita. Keberadaan orang dhu’afa disekitar kita hakekatnya ‘menantang’ kepedulian si kaya atau orang berpunya, apakah hati dan jiwa mereka tergetar untuk peduli dan kemudian mengulurkan hartanya untuk membantu penghidupan mereka. Sinergitas antara doa-doa yang banyak dan uluran tangan kaum berpunya terhadap nasib para dhu’afa dan terhadap ketidakberdayaan lembaga sosial dan lembaga pendidikan, merupakan jawaban dan solusi yang paling dinanti dan paling menjawab persoalan sosial masyarakat ini. Demikianlah essensi shalat yang sesungguhnya. Pesan dari pelaksanaan shalat tidak membangun egoisme personal yang ‘berwajah’ sukses sendiri dan bahagia sendiri, tetapi pesan shalat adalah membangun cita-cita bersama lewat doa-doa dan turut mendoakan yang semakin banyak untuk dibagi, sukses dan kesuksesan yang dibagi, bahagia dan kebahagiaan yang dibagi dan semampunya BERBAGI DAN TERUS BERBAGI…
Check Also
PESAN SEJATI MAULID NABI
PESAN SEJATI MAULID NABI Oleh Siti Aisyah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu …