DUHAI RAMADHAN, KAU AKAN PERGI..

Kita sudah berada di penghujung bulan suci Ramadhan, dan sang Ramadhan bulan suci ini akan segera pergi meninggalkan kita.Terasa sekali hari-hari Ramadhan kita isi dan kita semarakkan dengan ibadah yang sangat banyak.Ramadhan begitu semarak dalam diri kita, masyarakat, dan bangsa.

Oya,apa yang mesti dilakukan agar Ramadhan ‘semarak’, dan setiap berakhir Ramadhan tersebut, nilai Ramadhan tetap ‘semarak’ dalam diri kita masing-masing?. Bahwa untuk ‘menyemarakkan’ Ramadhan,dan kemudian nilainya tetap selamanya ‘semarak’ dalam diri masing-masing, hal yang terpenting di antaranya adalah mengetahui dan memahami bahwa bulan Ramadhan yang kita jalani bukan bulan biasa-biasa saja atau sebuah bulan yang sama dengan bulan-bulan lainnya. Bahwa bulan Ramadhan adalah sebuah bulan penggodokan, bulan penempaan dan kawah candradimuka menuju insan yang bertaqwa. “Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (al-Baqarah:183).

Rangkaian aktivitas Ramadhan, misalnya seperti shalat tahajjud, bersahur, dan berniat adalah ibadah yang dilaksanakan ditengah malam menjelang subuh. Aktivitas ibadah yang sangat penting dikala waktu tengah malam seperti ibadah shalat tahajjud tersebut, bermakna bahwa didalam memulai dan menjalani proses kehidupan di dunia ini sangat memerlukan persiapan spiritual berupa doa yang sangat banyak, yang khusuk, kepasrahan yang besar kepada Allah SWT agar tidak tergoyahkan optimisme dalam menghadapi gempuran dan ujian kehidupan. Selanjutnya bersahur, yang ditandai dengan makan dan minum sebagai persiapan untuk menempuh perjalanan berpuasa dalam waktu yang panjang dibesok hari. Makna dari bersahur diantaranya adalah, bahwa dalam menempuh perjalanan panjang kehidupan, membutuhkan persiapan dalam bentuk fisik untuk menghadapi setiap kepayahan, hambatan, dan rintangan. Kemudian terdapat perintah membaca niat atau berniat untuk pelaksanaan puasa di besok hari sebagai kewajiban seorang Muslim dan persembahan ibadah tersebut dengan harapan diterima Allah sebagai amal shaleh. Berniat ini memberi hikmah serta pelajaran kepada kita bahwa apapun aktivitas kebaikan yang dilakukan dalam kita menjalani kehidupan, harus selalu kita naikkan kepuncak yang paling tinggi, yaitu memperoleh ridha dan keridhaan Allah SWT.

Rangkaian selanjutnya adalah ‘berlapar’ puasa disiang hari dalam rangka menjalankan kewajiban sebagai seorang yang beriman. Berpuasa dan ‘berlapar’ disiang hari adalah dalam rangka menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan yang dilarang lainnya yang tidak diridha’i oleh Allah SWT seperti memaki, menyindir, mencela, berdusta, sangka buruk, korupsi dan berbagai perbuatan tercela dan nista lainnya. Sementara itu, makna dari berpuasa atau ‘berlapar’ tersebut adalah turut merasakan atau ‘sedang bersama’ dengan banyak orang yang ‘lapar dan kelaparan’ karena sebab tidak makan atau kekurangan makanan, serta ‘lapar’ karena tidak memiliki kemampuan untuk bergaya hidup megah seperti yang di demontrasikan dan di peragakan oleh orang-orang berpunya. Selanjutnya mengakhiri perjuangan disiang hari adalah berbuka puasa diwaktu yang telah ditentukan waktunya. Diketika menjelang waktu berbuka tersebut, kita tidak begitu saja menyantap makanan yang tersaji sebelum atau tanpa beduk dan sirine berbunyi. Pada tahap ini juga terdapat pelajaran penting di antaranya bahwa apa saja peristiwa yang terjadi atas manusia, ada terdapat ‘waktu-waktunya’ yang telah di tentukan. Bahwa dalam konteks itu, kejadian atau peristiwa apapun atas manusia adalah mutlak absulotik Tuhan atas manusia dan kemanusian kita.

Seterusnya sampai kemudian kepada aktivitas lainnya yaitu shalat sunnah tarawih. Ibadah shalat tarawih ini hanya terdapat di bulan Ramadhan.Banyak oràng yang memahami besarnya keutamaan dari shalat sunnah ini, oleh karena itu banyak orang kemudian tidak ingin mengabaikan dan meninggalkannya.Tetapi tidak sedikit manusia yang mengabaikannya dan dengan gampang meninggalkannya, karena kurang memahami hakekat dan keutamaannya. Shalat tarawih sejatinya, selain bentuk penghambaan kepada Allah SWT, juga yang penting diantaranya adalah dalam rangka pendidikan diri menjadi mencintai ibadah shalat-shalat sunnah lainnya. Seseorang yang ‘menjaga’ shalat tarawihnya dimalam-malam Ramadhan, kelak pasca atau selesai Ramadhan akan terdidik dan mencintai serta meningkatkan ibadah shalat sunnahnya, seperti semakin cinta dengan shalat tahajjudnya, shalat dhuha-nya serta shalat-shalat sunnah utama yang di anjurkan lainnya. Rangkaian ibadah utama selanjutnya adalah tadarus al-Qur’an, baik berjamaah atau dilakukan sendiri, dengan berusaha dan ‘berlomba’ sebanyaknya-banyaknya mengaji dan mengkajinya. Tadarus al-Qur’an di bulan suci ini, selain media dalam rangka pendekatan keimanan kepada Allah SWT, juga di antaranya adalah dalam rangka memberi pelajaran bahwa selesai Ramadhan hari-hari kita ‘tetap bersama’ al-Qur’an sampai Ramadhan mendatang kita jelang lagi. ‘Tetap bersama’ dengan al-Qur’an dimaknai sebagai terus-menerus membacanya dan terus menjunjung dan mengambil saripati nilai-nilainya sebagai pedoman dalam menjalani keseharian kehidupan kita didunia ini. Seterusnya adalah Shadaqah yang merupakan ibadah yang sangat penting apalagi di bulan suci ini. Menggemari bershadaqah adalah salah satu perilaku utama seorang Muslim, dan pelajaran serta hikmah dari ibadah ini adalah bahwa pasca Ramadhan kita menjadi gemar dan lapang berbagi seluruh rasa hati, seperti berbagi doa-doa, berbagi rezeki, berbagi pikiran, berbagi kebahagiaan dengan sesama manusia di berbagai keadaan.

Demikianlah, bahwa Ramadhan penuh dan sarat makna. Aktivitas keagamaan di bulan Ramadhan ini, sepanjang dilakukan dengan penuh keimanan, maka akan berhasil ‘menaklukkan’ banyak orang menjadi bertaqwa, menjadi lebih bertaqwa dan menjadi semakin bertaqwa. Itulah essensi dari ‘ber-Ramadhan’ sesungguhnya. Orang-orang yang ‘takluk’ dan semakin ‘takluk’ dengan nilai-nilai Ramadhan dan kemudian memperoleh predikat taqwa inilah sesungguhnya yang pantas ‘bergembira’ di hari nan Fithri ini..SELAMAT MENYONGSONG HARI NAN FITHRI,1 Syawwal 1440 H, MEMOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN….

About Siti Aisyah

Check Also

PESAN SEJATI MAULID NABI

PESAN SEJATI MAULID NABI Oleh Siti Aisyah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *