Kita sudah memasuki hari ke 3 lebaran, dan suasana lebaran masih sangat terasa. Oya, bunga rampai atau pernak-pernik lebaran banyak sekali dan menarik untuk dicermati, diantaranya seperti mudik yang fenomenal, kuliner khas lebaran yang dirindukan dan menggiurkan, serta baju baru lebaran yang kita ‘perbincangkan’ dicatatan saya kali ini.
Khusus yang terkait dengan baju baru ini, bahwa lebaran identik dengan baju baru? iya juga. Pemilik toko baju dipasar-pasar, dan dibutik-butik, serta dengan memanfaatkan media sosial, mereka menggelar ragam busana dengan begitu antusias, se-antusias masyarakat pemburu baju baru untuk keperluan lebaran mereka.
Bagi sebagian kita, baju baru dan kemudian tampil chique dan fashionable, adalah seperti pelengkap kebahagiaan ber-Iedul Fithri. Ujar urang Banua,: “kada anak-anak haja nang handak baju hanyar, urang ta tuha gin handak ai jua” (hehehe).
Well, ada yang menarik dari fenomena ini, bahwa baju baru lebaran menurut saya bisa di lihat dari 2 sisi, yaitu sisi pertama, baju baru yang merupakan simbolitas zhahir dengan berbagai varian dan model, serta siap mempercantik dan memperindah pemakainya di hari nan fithri. Sisi kedua, dan ini essensi sesungguhnya, bahwa baju baru bermakna penampilan ‘diri’ atau ‘kedirian’ kita sebagai hamba Allah SWT yang ‘baru’. ‘Baru’ yang dimaksud adalah baru dengan predikat manusia yang memiliki dan mendapatkan gelar ‘sarjana’ taqwa dengan kualitas iman yang semakin meningkat setelah melewati tempaan, atau ‘kuliah’ atau ‘sekolah’ selama sebulan penuh di ‘Universitas’ atau ‘Madrasah’ yang bernama Ramadhan. ‘Mata kuliah’ atau ‘mata pelajaran’ yang ‘disuguhkan’ atau disajikan Allah SWT di Universitas atau di Madradah Ramadhan tersebut, seperti berpuasa di siang hari, mengisi malam-malamnya dengan ibadah yang sangat banyak, seperti bertarawih, bertadarrus al-Qur’an, bertahajjud, bersahur, kemudian juga bershadaqah, dan berbagai amaliyah lainnya, adalah amaliyah ibadah yang kemudian menghapus dosa-dosa manusia, dan mengantarkan kita kepada kesucian (fithrah), sehingga kemudian mendapatkan predikat Muttaqien (orang yang bertaqwa).
Bahwa ‘baju baru’ dihadapan Allah SWT tersebut ‘ber-merk’ taqwa, lebih bertaqwa dan semakin bertaqwa. ‘Kebaruan’ ini, ukuran atau indikatornya terlihat dan dirasakan lewat pengetahuan, pemahaman, dan pengamalan nilai agama yang semakin baik dalam kehidupan sehari-hari, seperti semakin ‘menghadirkan’ Tuhan dalam seluruh dan segala aktivitas kehidupannya, semakin banyak amaliah ibadahnya, dan semakin bagus dan indah budi perkerti dan akhlaqnya. Ketawadhu’an dan ketundukan dihadapan Allah SWT penuh sesak mengisi ruang hati dan menghiasi zhahir dan raganya, yang kemudian berimplikasi kepada ketawadhu’an dalam pergaulan dihadapan sesama manusia.
Demikianlah, bahwa taqwa adalah ‘baju baru’ yang semestinya menjadi figuritas dan kepribadian setiap kita setelah melewati pendidikan (tarbiyyah) Ramadhan selama sebulan penuh. Dan tentu saja pula, bahwa baju taqwa tersebut seharusnya tetap kita pelihara, kita rawat sehingga tetap ‘melekat’ dan menjadi ‘pakaian’ kita selama 11 bulan sampai bulan Ramadhan berikutnya menjelang lagi, bahkan sampai selama-lamanya dan bahkan sampai menghadap Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan nanti.