“Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu, terdapat suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS: al-Ahzab: 21)
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS:al-Qalam: 4)
Bulan Rabi’ul Awwal yang mulia kini berada ditengah kita dan bersama kita kembali. Rabi’ul Awwal dikenal sebagai bulan Maulidir Rasul, dan seluruh kaum Muslimin di dunia memperingatinya sebagai bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Peringatan Maulid di Indonesia tidak ketinggalan juga, dan khusus di banua kita Kalimantan-Selatan, bulan ini disambut dan diperingati dengan gegap gempita dan suka cita. Peringatan diadakan di tempat-tempat ibadah, di kantor pemerintah, di organisasi dan di berbagai instansi serta dirumah penduduk.
Tentu saja semestinya, bahwa peringatan tidak sekedar peringatan dengan mengadakan acara atau ujar urang banua Banjar ‘ba acara-an’ atau peringatan maulidan semata. Bahwa ada terdapat pertanyaan besar disetiap kita berada di bulan ini, yaitu sudahkah kita ‘memperingatkan’ masing-masing diri kita didalam melewati detik-detik hari diperjalanan atau dipenghujung usia, untuk berusaha sekuat tenaga dan berusaha semampunya, memperbanyak dan mmperbarui terus amal shaleh, seperti yang diajarkan Nabi SAW. Kemudian pertanyaan berikutnya pula yaitu, sudahkah kita semampunya dan sedaya upayanya, memperbaiki akhlak budi seperti yang di contohkan, diperagakan dan di demonstrasikan Nabi SAW dalam pergaulan dengan sesama manusia.
Ibadah yang banyak dan keindahan akhlak budi yang terus kita usahakan atau kita upayakan, tentu tidak bisa sesempurna sebagaimana halnya Nabi SAW, akan tetapi yang kita bisa lakukan dalam batas kemanusian kita adalah bahwa kita mesti harus terus meminta pertolongan kepada Allah SWT lewat doa-doa, agar berdaya upaya melakukan, memperbanyak, memperbaharui, atau memperbagus pelaksanaan ibadah, serta berupaya sekuat tenaga, memperbaiki akhlak perilaku kita dihadapan sesama manusia.
Ibadah yang tinggi dan banyak, serta tampilan akhlak yang mulia seperti satu paket atau satu kesatuan yang utuh. Akhlak mulia adalah buah dari banyak dan tingginya ibadah kepada Allah SWT. Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu anhuma, dia berkata, bahwa jika Nabi SAW melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah. Jawaban Nabi SAW ketika ditanya ‘Aisyah, mengapa Nabi SAW melakukan shalat sampai bengkak kaki adalah, “apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur”. Dan kemudian sebagaimana perkataan ‘Aisyah juga, bahwa ahklaknya Nabi SAW adalah al-Quran, memberi gambaran bahwa ada sinergitas yang harmonis antara ibadah dan akhlak. Akhlak terpuji adalah refleksi nyata dari tinggi dan banyaknya ibadah atau perbuatan kebajikan lainnya. Semakin banyak dan tinggi kualitas dan intensitas ibadah seorang hamba, maka tak pelak akan semakin baik dan indah pula akhlak budi kita sebagai hamba Allah SWT dan ummat Nabi Muhammad SAW.
Demikianlah, kesempurnaan seorang Muhammad Rasulullah SAW yang berada dibawah bimbingan langsung dari Allah SWT, adalah sosok besar yang memiliki ‘prestasi’ keimanan tertinggi serta reputasi akhlak mulia yang tiada toluk bandingnya, dan selamanya ‘viral’ dalam helaan nafas, detakan jantung, dalam bola mata kita yang selalu berair mata mengenangnya, dalam seluruh rasa, pikir, dan hati manusia dan kemanusiaan kita..barokallah…
Sholawat dan Salam penuh cinta dari kami bagimu wahai Nabi, Shalawat dan Salam penuh cinta dari kami bagimu ya Rasulullah..