FILOSOFI KURBAN DAN BERKURBAN
Seluruh ajaran dan nilai yang terkandung didalam agama Islam, adalah perintah tentang penghambaan dan pengEsa-an Tuhan, yang kemudian berimplikasi positif terhadap pembangunan kehidupan yang harmoni antar manusia dan antara sesama manusia selama didunia ini.
Dalam perjalanan dari waktu ke waktu, pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama semakin semarak dan semakin baik. Khusus terkait kurban dan berkurban, diketika memasuki dan berada di Hari Raya Idul Adha setiap tahunnya, juga terlihat semakin semarak dan meningkat.
Ajaran berkurban tentu saja semestinya dipahami tidak dalam batas simbolitas belaka, yaitu menyembelih hewan kurban seperti sapi atau kambing semata, tetapi ajaran ini harus dipahami sampai ke ranah atau tingkat yang paling puncak dan tinggi, yaitu titik transendental (keridhaan Allah SWT).
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah) (QS: al-Hajj; 32).
Jika berkurban hanya dalam batas materialistik seperti ‘aku kaya maka aku harus berkurban’, ‘malu dong ah kalau aku tidak berkurban’, atau ‘biar orang tahu bahwa aku ikut berkurban’ atau ‘gak enak banget kalau gak ikut berkurban’ atau ‘biar orang menyebutku sebagai orang yang selalu berkurban setiap tahun’ dan atau niat-niat materialistik duniawi lainnya, maka berkurban terjebak pada aktivitas simbolitas belaka yang sia-sia tanpa makna, serta tidak berdampak apapun terhadap individu yang berkurban, dan juga terhadap individu-individu yang berhak menerima kurban tersebut.
Bahwa berkurban jika diniatkan semata-mata untuk memperoleh dan mendapatkan keridhaan Allah SWT, maka makna dan hakekat berkurban akan didapatkan oleh individu yang berkurban, maupun juga oleh individu-individu penerima kurban tersebut, yaitu berupa ‘tersembelihnya’ sifat dan perilaku kemanusiaan yang sangat manusia, yang selalu berpotensi mendorong untuk sombong, angkuh, tinggi hati, ujub, takabbur, tamak, rakus, iri dengki, serakah dan sifat perilaku jahiliyah lainnya, untuk kemudian menuju kepada tumbuh, subur dan berkembangnya sifat dan perilaku Robbaniyyah, berupa selalu ‘menghadirkan’ Tuhan dalam helaan napas, lintasan pikiran dan hati, serta gerak perilaku hidupnya, yang kemudian berbuah kepada semakin beriman, semakin memperbanyak dan memperbaiki perilaku ibadahnya dan semakin mulia dan cantik akhlak budinya.
Selama ini, di setiap kali menemui Iedul Qurban ini, yang ‘sangat’ ‘terviralkan’ dalam ruang pengetahuan masyarakat dakwah kita adalah bahwa berkurban itu dalam rangka berbagi dan berbagi daging hewan kurban kepada kaum dhu’afa, sementara itu narasi bahwa berkurban adalah dalam rangka memperoleh dan menuju keridha’an Allah SWT, terasa masih minim atau terasa masih kurang ‘terviralkan’ ketengah atmosfir kehidupan umat. Padahal disitulah esensi sesungguhnya, bahwa berkurban adalah untuk keridha’an Allah SWT semata yang kemudian akan ‘berbuah’ kepada berbagi dan berbagi daging kurban yang ‘didalamnya’ ada terdapat nilai esensial untuk mencapai titik puncak keridha’an Tuhan atau nilai Robbaniyah itu tadi. Disinilah sesungguhnya peran strategis para aktivis dakwah, untuk mengajarkan kepada masyarakat disemua lapisan, bahwa dalam konteks ini, berkurban tidak dalam batas seremoni, tetapi harus disampaikan ke hakekatnya (filosofisnya), yaitu menghadirkan nama Tuhan itu tadi dalam penyembelihannya.
Demikianlah bahwa, ajaran berkurban adalah sebuah ajaran yang sangat fenomenal, yaitu penegakkan nilai keTuhanan atau Rabbaniyah, yang kemudian berbanding tegak lurus dengan ‘fenomenalnya’ dampak atau ‘hasil’ ajaran tersebut, yaitu ‘tersebarnya’ perilaku Robbaniyyah, baik untuk pihak yang berkurban maupun para penerima kurban sehingga memiliki sifat, sikap dan perilaku ‘Robbaniyyah’ dalam diri dan kedirian masing-masing, yang pada akhirnya mengantarkan masyarakat dan bangsa kita menjunjung tinggi nilai-nilai dan perilaku Rabbany tersebut, yang terrefleksi dan terpatri dalam pikirannya, rasa dan ruang hatinya, ucapannya, goresan tulisannya, statusnya, cuitannya, dan atau postingannya dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari.